Langsung ke konten utama

Mentorship #1


Berat sekali rasanya ada di tahap ini. Jujurly sewaktu ada cerita dan panduan mentorship dengan harus punya personal branding lalu membuat CV rasanya insecure parah. Bukannya apa-apa, karena aku merasa kemampuanku ya hanya sekedar untuk diri saja. Merasa tak ada yang expert di diriku. Apalagi saat melihat begitu banyak CV yang luar biasa keren, auto semakin insecure. Pilihannya hanya 2. Aku mundur dengan alasan diriku yang insecure dan tak pernah tahu akan seperti apa di depan sana dan aku maju saja dengan mencoba PD dengan diriku sendiri mengalahkan rasa insecure dan aku akan tahu bagaimana setelah ini. Apakah aku akan semakin berkembang dan lebih baik atau malah semakin bertambah ke insecure-anku ini. 

Dan akhirnya, bismillah biidznillah aku masih diberi kesempatan disini. Aku mencoba mengalahkan keraguan dan insecure itu dengan berani mencoba. Hasilnya nanti bagaimana, apakah akan dapat mentee atau tidak itu mungkin bukan tujuanku. Tujuanku adalah aku masih bisa belajar disini sebagai seorang pembelajar. 

Terima kasih buddyku Oktavia Winarti juga yang selalu reminder dan menyemangati. Aaah pokonya lope badag buatmu ❤️





#institutibuprofesional

#hutankupucekatan

#tahapkupukupu

#mentormenteebertemu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fii Amanillah Abi

Sebuah cerita pengalaman seorang anak berusia 6 tahun saat qodarullah harus ditinggal dalam waktu yang cukup lama oleh ayahnya. Cerita ditulisnya dalam buku tulis bertuliskan tangan, sesuai bahasa yang ia tahu dibantu pertanyaan-pertanyaan pemantik dari Ummi agar alurnya pas.  Dibukukan dalam sebuah ebook yang bisa dibaca dan digunakan oleh siapapun untuk kebutuhan literasi. Tidak untuk dikomersilkan.  Salam literasi  Unduh cerita versi pdf di  Fii Amanillah Abi Cerita versi audio book di  Audio Book  atau  https://www.instagram.com/reel/CycAcd2yTq2/?utm_source=ig_web_copy_link&igshid=MzRlODBiNWFlZA==

Puasa Pekan 3 #Kepompong

Waktu begitu cepat berlalu. Rasa-rasanya 24 jam dalam sehari begitu singkat buatku, astagfirullah. Betapa manajemen waktuku amburadul. Bahkan aku pun sering lupa tanggal berapa. Aku pun lebih sering menarik diri dari dunia maya, sedikit sekali waktuku yang kugunakan untuk bersosial media akhir-akhir ini, hingga suamiku sendiri jarang bisa berkomunikasi denganku, aku merasa lebih sibuk di kehidupan nyata dengan kegiatan domestik dan target-target yang belum tercapai. Bahkan menulis jurnal harian pun kadang rapel dan sudah banyak sekali yang hanya menulis di template tanpa caption. Pekan ini begitu menyita tenaga fisik dan batinku. Qodarullah.  Sampai tiba juga di hari dimana aku bisa menulis jurnal ini. Kutulis saat anak-anak terlelap tidur siang. Jurnal puasa pekan 3.  Ko bisa? Udah 3 pekan aja pekan puasa menjadi kepompong, tapi aku merasa belum menjadi lebih baik huhu. Kemana aja aku selama ini?  Diantara puasa dan tantangan mungkin tak ada bedanya, sama-sama masih bany...

Mentorship #4

Memasuki pekan ke 4. Aku bersyukur masih diberi kesempatan untuk bernafas, bersyukur masih diberi kesempatan untuk melakukan berbagai hal yang menjadi targetku di pekan ini. Alhamdulillah. Seperti yang ku targetkan di deadline pekan ini, aku melakukan terapi syukur, memperbanyak syukur dari sekecil apapun yang ada dari yang kulihat, yang kudengar, yang kurasa, yang kusentu dan kucium serta yang ku punya. MasyaaAllah.  Dan inilah ceritaku pekan ini.